Perajin Besek Desa Bukor, Memetik Untung Dari Bambu

Bondowoso – Bambu menjadi barang istimewa. Setidaknya bagi masyarakat Desa Bukor Kecamatan Wringin. Betapa tidak, karena bambulah yang menyokong hidup mereka. Setidaknya ada 2000 jiwa warga Desa Bukor yang menggantungkan kepada bambu. Bambu itu diolah menjadi sebuab produk yang lebih bernilai, yaitu besek. Biasanya, besek ini digunakan sebagai kemasan ikan laut. Jadi, tidak heran Desa Bukor saat ini menjadi pemasok besek terbesar di Jawa Timur. Kebutuhan akan besek di semua tempat olahan ikan laut, rata-rata disuplay dari Desa Bukor.

Saat ini, satu besek dihargai Rp 120. Seorang perajin dapat menghasilkan 300 besek setiap harinya. Jika dihitung jumlah perajin di desa Bukor mencapai 2000 orang, menghasilkan 600.000 besek setiap hari. Dengan produk ini, sirkulasi uang yang masuk ke Bukor setiap hari dari sektor kerajinan besek mencapai Rp 72.000.000. Angka yang sangat fantastis. “Kami optimis bisa meningkatkan produksi lagi jika memakai teknologi tepat guna”, kata kepala Desa Bukor, Mathari.

Biaya produksi besek sebenarnya agak murah. Yaitu cukup selonjor bambu. Perajin membeli selonjor bambu Rp 10 ribu. Bambu itu dipotong-potong dengan ukuran panjang 40 cm. Kemudian diserat tipis. Satu lonjor bambu dapat menghasilk an 600 besek. Keuntungan yang diraup dari selonjor bambu bisa mencapai 54 ribu.

Aktivitas perajin ini sudah dimulai secara turun-temurun. Warga sudah ahli membuat besek. Transformasi pengetahuan pun dilakukan secara turun temurun. Meski tidak ada muatan lokal pembuatan kerajinan besek di sekolah dasar atapun menengah, warga sudah ahli. Pengetahuan pembuatan besek diperoleh dari masyarakat. “Kami berharap ada teknologi tepat guna yang dapat mempercepat dan memperbanyak produksi besek. Sehingga, kami dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup warga”, harap kades Bukor.

Memang, hanya dengan menjadi pengrajin besek, warga sudah bisa menghidupi keluarganya. Hanya saja, ibarat air taut, pasang surut tetep menghinggapi perajin. Jika pasar ikan lesu, permintaan besek pun lesu.

Selain itu, hambatan yang cukup vital adalah bahan utama produksi, yaitu bambu. Bambu dapat diproduksi menjadi besek yaitu bambu yang berumur minimal 1,5 tahun. Sehingga, lama kelamaan bambu di sekitar Desa Bukor langka. Dia berharap masyanakat tetap mebudidayakan bambu. Sehingga tidak tergantung dan pasokan bambu luar daerah.

Saat mendengar bahwa Desa Bukor bakal mendapatkan bantuan teknologi tepat guna, Mathari gembira. Harapnya, bantuan tersebut segera direalisasikan. Dia berharap, dapat meningkatkan produksi besek Bukor

Sumber: Citra Media, Edisi II / 13-18 September 2013

http://www.infobondowoso.net/2013/09/perajin-besek-desa-bukor-memetik-untung.html

Related posts

Leave a Comment